Apalah gunanya menghidupkan lampu sen saat sedang berbelok?
.
Bukan sedang ber-metafora, cuman pengen ngomongin lampu sen aja, yang mungkin memang bisa dimetaforakan.
Saya ga pernah marah ataupun sensitif terhadap pertanyaan-pertanyaan seputar IPK. Bukan berarti saya sombong, lagian IPK saya juga ga ada di level “Sangat Memuaskan” sehingga patut disombongkan, tapi ga jelek-jelek banget juga. Jadi menurut saya hal-hal seputar IPK itu bukan sesuatu yang harus dihindari tapi bukan juga sesuatu yang patut di umbar sana-sini.
Ketika sedang ada arisan atau sekedar kumpul-kumpul keluarga, pembicaraan soal IPK itu benar-benar suatu yang lumrah, saya memakluminya, karena mungkin para orang tua ingin merasa lebih dekat dengan kita para generasi penerusnya dan ga tau pertanyaan selain “Gimana pacarnya? Ah masa belum punya…”, sehingga pertanyaan seputar perkuliahan adalah pertanyaan ter-populer nomor 2 setelah masalah *ehm* pacar.
Namun beda cerita kalau ada salah seorang sanak saudara, yang ketika bertemu bukanlah menanyakan kabar, kalimat pertama yang ia ucapkan adalah, “Firda…. IPK-nya berapa sekarang?”
Niat saya yang tadinya mau mencium tangan kakak dari papa saya itu langsung luntur, saya langsung mengalihkan kegiatan saya jadi mengambil jeruk, dan menjawab tanpa menatap muka nya. Seperti yang sudah saya sebutkan diatas, IPK bukan hal yang sensitif untuk saya, tapi menjadikan IPK sebagai bahan sapaan pertama itu sungguh hina. Sangat terlihat, dia memang tipe orang tua yang menggunakan anak sebagai alat kesombongan untuk mengangkat derajatnya di hadapan relasi atau bahkan sanak saudaranya sendiri.
Tidak lupa, om kesayangan saya itu melanjutkan pembicaraannya tadi ke topik anaknya yang sudah bekerja di perusahaan X dengan nominal gaji yang dia sebutkan dengan sangat jelas.
Ya.. Saya kadang heran saja masih ada tipe orang tua seperti itu, cukup memalukan.
Final Preparation -Project 365 #15
Happy world Pi day!!!
3.14.2012
JUST MY (messy) ROOM — and giant TEDx props
(Source: 4gifs, via itsmylife-itsmyworld)